Pembelajaran dalam PJJ (Tugas 2 – Kompetensi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ))

Standar

Kompetensi Dasar PJJ

Tugas TOPIK-2

1. Jelaskan tiga aspek utama dalam pembelajaran di PJJ!

2. Secara umum, coba Anda jelaskan perbedaan antara Tatap Muka dan PJJ!

 

Jawaban

1.   Hakikat Pembelajaran PJJ

Peserta didik memiliki otonomi penuh atas proses belajarnya. Mahasiswa PJJ tahu kapan harus belajar, kapan harus bertemu dengan teman-temannya, kapan harus berkonsultasi dengan dosennya, dan sebagainya. Inilah yang dinamakan peserta didik mandiri atau sering disebut sebagai ”independent learner”, yang merupakan aspek esensial dalam pembelajaran di PJJ.

Namun, pengajar dan pengelola PJJ bukan berarti lepas tangan. Mereka harus menyediakan tutorial, yaitu berupa: Kegiatan tatap muka dengan mahasiswa agar mereka bisa mengungkapkan kesulitan atau pertanyaan lain selama mereka belajar.

Dari uraian di atas terdapat Tiga aspek utama dalam definisi tersebut adalah:

 a.      Keterpisahan pengajar dan peserta didik

PJJ memang melayani kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Mereka ini tersebar di seluruh pelosok tanah air, mempunyai keterbatasan waktu dan jarak, serta usia yang sangat bervariasi

b.      Kemandirian

Pada kenyataannya, kadar kemampuan belajar mandiri ini sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Sugilar (2000), makin tinggi kendali mahasiswa atas pembelajaran yang sedang dijalaninya, dan dengan sendirinya kesiapannya untuk belajar mandiri makin tinggi pula. Keterampilan belajar (learning skills), yang merupakan modal dalam belajar mandiri, sikap dan persepsi mahasiswa terhadap belajar yang terkait dengan pendekatan belajar, sebagaimana yang diungkapkan oleh Light & Cox (2001), serta berbagai kondisi eksternal ikut berpengaruh terhadap kesiapan peserta didik untuk belajar mandiri.

c.       Layanan belajar atau tutorial

Tutorial berkaitan dengan tingkat kemandirian peserta didik. Tutorial atau seperti yang disebut oleh Simpson (2000) sebagai bantuan belajar, baik yang bersifat akademik maupun non-akademik berperan besar dalam proses pembelajaran di PJJ. Sebagaimana dikatakan oleh Garison (1993), kemandirian dicapai melalui interaksi, bukan isolasi. Ini berarti, peserta didik PJJ tidak boleh dibiarkan sendiri, mereka harus disentuh dengan berbagai tutorial yang akan membuat mereka termotivasi dan terbebas dari kesepian.
2.  Modus Pembelajaran PJJ

Dalam PJJ, pengajar dan peserta didik tidak bertemu layaknya pendidikan tatap muka, maka proses pembelajaran dapat melalui belajar mandiri dan tutorial. Berdasarkan modus penyelenggaraannya, tutorial dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu jarak jauh dan tatap muka.

a.      Tutorial Tatap Muka

Pertemuan tatap muka memang diperlukan khususnya bagi proses belajar yang terkait dengan pembentukan kompetensi tertentu, dan terlebih lagi jika ditinjau dari hal-hal yang bersifat manusiawi. Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu ingin berinteraksi dengan sesamanya, dan tanpa interaksi, manusia akan mengalami kesepian.

Peserta didik PJJ tampaknya seperti terisolasi, oleh karena itu, adanya interaksi secara langsung akan merupakan sesuatu yang istimewa. Dalam menggapai berbagai konsep, seseorang memerlukan teman diskusi atau memerlukan teman yang dapat memberikan konfirmasi tentang kemantapan konsep yang dikuasainya.

Dilihat dari jenis kegiatan yang dilakukan, tutorial tatap muka dapat dibedakan menjadi dua bagian besar, yaitu :

1)      Tutorial yang Bersifat Pengkajian Substansi

Tutorial tatap muka jenis ini difokuskan pada kemampuan peserta didik untuk menguasai substansi materi mata kuliah yang lebih bersifat kognitif, termasuk yang bersifat keterampilan kognitif atau yang disebut oleh Gagne (1985) sebagai keterampilan intelektual. Karena fokusnya adalah pengkajian, kegiatan tutorial lebih banyak diisi dengan diskusi atau kerja kelompok untuk menerapkan konsep tertentu.

Oleh karena tutorial tatap muka tidak terlalu sering dilakukan, pertemuan tatap muka sebaiknya dimanfaatkan untuk menyepakati cara kerja, membahas laporan atau hasil diskusi, serta merancang kegiatan berikutnya. Sebaliknya, kegiatan seperti melakukan eksplorasi dapat dilakukan di luar pertemuan tatap muka dengan panduan yang jelas.

Untuk memotivasi peserta didik mengikuti tutorial dan memberi peluang kepada peserta didik untuk menunjukkan kemampuannya, perlu dipikirkan satu cara yang dapat mengakomodasi kebutuhan ini. Pemberian tugas-tugas yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan prestasi yang terbaik, barangkali merupakan satu cara yang dapat dilakukan. Penilaian terhadap tugas-tugas tersebut diperhitungkan dalam penentuan nilai akhir.

2)      Tutorial yang Bersifat Latihan dan Penghayatan

Tutorial ini difokuskan pada pembentukan keterampilan serta sikap dan nilai. Oleh karena itu, tutorial ini dapat berbentuk: praktikum, praktek mengerjakan sesuatu dalam situasi buatan (simulasi), atau mengerjakan sesuatu dalam situasi yang sebenarnya. Mata kuliah yang memerlukan kegiatan seperti ini misalnya llmu Pengetahuan Alam, Komputer, Pendidikan Jasmani, Seni Drama, Tari, dan Musik, serta Program Pengalaman Lapangan (PPL), baik berupa melakukan penyuluhan, maupun latihan mengajar.

Dalam kaitan ini, peran instruktur dan supervisor sangat penting. Tanpa kehadiran supervisor, tutorial ini tidak mungkin dilaksanakan. Terkait dengan esensi kegiatan ini, maka tempat praktek berupa ruangan dan fasilitasnya harus disediakan.

Kegiatan utama dalam tutorial jenis ini adalah latihan dan penghayatan, yang dilakukan secara sistematis. Artinya, setiap latihan/penghayatan diikuti dengan diskusi untuk mengkaji kekuatan dan kelemahan peserta dalam melaksanakan latihan tersebut. Dengan cara ini, kesalahan yang sama tidak akan diulangi pada latihan berikutnya.

Di samping kedua jenis tutorial tatap muka di atas, perlu adanya konseling. Konseling ini dapat dilakukan dalam bentuk tatap muka (individual dan kelompok), namun dapat pula dilakukan melalui jarak jauh melalui koresponden, telepon, dan online. Bagi mahasiswa PJJ, konseling dapat merupakan bantuan yang sangat bermakna, tidak saja dalam menghadapi masalah akademik, tetapi juga masalah non akademik.

b.      Tutorial Jarak Jauh

Perkembangan teknologi dalam perkembangan pelayanan PJJ sangat penting. Dengan perspektif seperti itu, perkembangan PJJ dari generasi ke-1 sampai generasi ke-5 digambarkan bergerak dari:

model korespondensi –  ke model multimedia –  ke model belajar tele/jarak jauh (telelearning) –  ke model belajar fleksibel –  sampai ke model belajar fleksibel berintelegensi.

  • Pada generasi ke-1, tutorial jarak jauh dimulai dari model koresponden yang mengandalkan bahan ajar cetak, baik dalam bentuk materi pokok maupun berbagai panduan/pedoman yang dapat mengarahkan peserta didik dalam proses belajarnya. Komunikasi antara pengajar dan peserta didik dilakukan melalui surat-menyurat, peserta didik dapat bertanya melalui surat.
  • PJJ generasi ke-2 melengkapi bahan ajar cetak dengan multimedia, seperti kaset audio, video, Pembelajaran Berbantuan Komputer (PBK), serta video interaktif. Melalui cara ini, peserta didik dapat mendengar suara pengajar atau melihat wajahnya, namun tidak ada komunikasi langsung. Mereka dapat memanfaatkan multimedia tersebut sesuai dengan waktu, tempat, dan kecepatan yang mereka inginkan.
  • Generasi ke-3 PJJ mulai dengan “model belajar tele”, yang memungkinkan peserta didik berdialog, bahkan bertatap muka secara jarak jauh. Melalui konferensi teleaudio, para peserta didik dapat berdiskusi secara jarak jauh baik dengan teman maupun dengan pengajarnya; sedangkan melalui konferensi video, mereka dapat bertatap muka secara jarak jauh. Selain itu, ke dalam generasi ke-3 ini juga termasuk siaran TV dan radio.
  • Pada generasi ke-4 mulai memanfaatkan akses berbasis internet terhadap sumber www, serta komunikasi bermediasi komputer. Dengan cara ini, peserta didik dapat mengakses berbagai tutorial (bahan ajar dan informasi lain) dari berbagai tempat sesuai dengan waktu yang mereka inginkan.
  • Akhirnya PJJ generasi ke-5, di samping memanfaatkan ketiga fasilitas pada generasi keempat, dilengkapi dengan komunikasi bermediasi komputer, menggunakan sistem balikan otomatis, serta akses portal kampus terhadap proses dan sumber lembaga (Taylor, 2003).

Jenis-jenis tutorial jarak jauh dapat dikelompokkan dan dideskripsikan sebagai berikut:

a)      Tutorial secara tertulis yang disampaikan melalui korespondensi

Bahan ajar yang pada umumnya berbentuk modul memang dirancang secara khusus sehingga memungkinkan peserta didik mengatur cara dan kecepatan belajarnya, serta menilai pencapaiannya secara bertahap.

b)     Tutorial melalui multi media

Bahan ajar cetak yang disediakan bagi peserta didik dilengkapi dengan multi media, seperti kaset audio, kaset video, Pembelajaran Berbantuan Komputer (PBK), atau media lainnya. Media tersebut dapat dimanfaatkan oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhannya, sehingga mempunyai fleksibilitas dalam hal waktu, tempat, dan kecepatan.

c)      Tutorial secara tersiar, baik melalui radio maupun televisi (TV)

Berdasarkan tayangan tersebut, peserta didik dapat mengajukan pertanyaan, baik melalui telepon maupun secara tertulis untuk dijawab atau dibahas pada siaran berikutnya.

Layanan secara tersiar diberikan kepada kelompok peserta didik yang tidak mungkin mengikuti secara penuh tutorial tatap muka yang diwajibkan. Pada perkembangan selanjutnya, interaksi langsung mestinya dapat dilakukan, baik dalam tutorial yang disiarkan lewat radio maupun TV.

d)     Tutorial melalui telepon

Secara lebih luas layanan melalui telepon ini dapat dimanfaatkan sebagai “konferensi teleaudio”, yang melibatkan sekelompok peserta didik yang ingin berdialog dengan dosen/pendidiknya. Biaya telepon yang cukup mahal dapat menjadi kendala, hal itu dapat diatasi dengan menanggung biaya secara bersama-sama sehingga tidak memberatkan mahasiswa.

e)      Tutorial Online

Tutorial online mempersyaratkan peserta didik melek komputer, di samping mempunyai akses ke internet. Oleh karena itu, tutorial online hanya dapat dimanfaatkan oleh peserta didik yang memenuhi syarat tersebut. Tanpa kedua persyaratan tersebut, tutorial online tidak dapat dimanfaatkan oleh peserta didik.

Kelebihan dari tutorial jenis ini adalah layanan yang dapat diberikan mencakup layanan akademik dan non-akademik. Melalui internet yang berbasis web, para peserta didik dapat mengakses berbagai layanan yang disediakan oleh penyelenggara PJJ, seperti mengecek nilai, mengikuti tutorial, perolehan feedback, mendapatkan materi suplemen, serta inforrnasi terbaru yang berkaitan dengan kalender akademik, peristiwa penting, atau kegiatan kemahasiswaan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s